radiografer.com
Look around, Learn, Share
Look around, Learn, Share
Jan 30th
Jan 21st
Semenjak obama terpilih menjadi presiden Amerika, wabah blackberry melanda seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Apa sebab? Hal ini karena gadget besutan RIM (Research in Motion) tersebut menjadi andalan Obama pada masa-masa kampanye. Bahkan, Obama berharap blackberry-nya tidak diganti selama dia menjadi presiden. Meski dalam hal ini, Obama hanya bisa berharap. Memiliki blackberry dipandang bakal meningkatkan status sosial seseorang di mata masyarakat. Sehingga, mereka berlomba-lomba mengganti handphonenya. Padahal, beberapa merk handphone lain harganya tidak jauh berbeda dengan blackberry. Namun begitulah, pada akhirnya semua dilihat dari citra (brand awarness).
Bagi fesbuker yang selalu mengupdate statusnya, kadang-kadang ini juga menjadi bagian dari narsisme-nya, supaya terlihat oleh yang lain, kalo update statusnya berbeda “kelas” dengan yang lain. Mencolok sekali, jika seseorang mengupdate statusnya menggunakan handset blackberry, maka akan terlihat tanda “via facebook for blackberry” di bawah statusnya. Nah, buat rekan-rekan yang bermodal pas-pasan ataupun menganggap blackberry biasa-biasa saja dan bukan sesuatu yang “wah”, tapi tidak ingin kalah pamor dengan pemilik blackberry beneran, mungkin bisa mencoba tips berikut ini :
More >
Jan 21st
Penggunaan antenna wireless mulai marak sejak Onno W. Purbo mempopulerkan wajanbolik (antena wajan). Antena ini menggunakan wajan (penggorengan) sebagai media utamanya. Wajan? Ya. Benda yang selama ini setia menemani para ibu di dapur, kini menjadi sahabat dekat para bapak (termasuk anaknya). Semua itu dilakukan demi mendapatkan sebuah barang langka di indonesia (baca : koneksi internet cepat dan murah). Penggunaan wajanbolik lazim dilakukan untuk menjangkau sinyal hotspot, agar bisa mengakses internet secara legal ataupun ilegal. Juga untuk memperkuat tangkapan sinyal telepon seluler (3G/EVDO).
Tertarik dengan tagline “hati-hati internetan dengan ***** ngebut banget!”. Akhirnya, saya maksain juga beli modemnya. Sebelumnya sempat ragu sih, soalnya pernah ngetes pake hp cdma di rumah cuma dapet beberapa bar sinyalnya. Kebayang kan, kalo ternyata sudah beli, ternyata gak dapet sinyal full. Alhasil, kualitas koneksi pasti bakalan pas-pasan. Bener aja, pas udah beli, ternyata di rumah cuma dapet 1 bar saja sinyal EVDO-nya. Maklum, tinggal di daerah pinggiran, bro
. Otomatis koneksi internet tidak seperti yang diiklankan. Waah, alamat bakalan kecewa lagi neeh
.
Dapet saran dari sohib untuk pake wajanbolik, mikir-mikir. Soalnya, modemnya harus nempel di wajanbolik secara permanen dan terpancang pada tiang dengan ketinggian 3-5 meter. Kebayang kan? Ntar gimana, kalo pengen internetan di mana aja? Rugi dong beli mahal-mahal cuma kepake buat di rumah aja. Ya udah, nyambangin mbah google. Minta wejangan. Dan, AHA! Ternyata dikasi banyak sekali inspirasi untuk membuat antena penguat sinyal. Dari yang paling rumit sampai yang paling sederhana. Akhirnya, pilihan pun jatuh pada antena kaleng! Wah-wah, makhluk apa lagi nih?
Recent Comments